Kenapa Cabai Sekarang Tidak Pedas? Fakta Ilmiah yang Jarang Dibahas dan Penyebab Sebenarnya
- kiosayur
- Nov 12, 2025
- 2 min read

Banyak orang mengeluh bahwa cabai yang beredar di pasaran belakangan ini tidak lagi sepedas dulu. Ada yang menyalahkan varietas baru, ada yang menuding petani, dan bahkan muncul teori konspirasi bahwa cabai sengaja dibuat “lemah”. Namun, apa yang sebenarnya terjadi?
Menurut laporan National Geographic dan wawancara dengan sejumlah ahli, perubahan tingkat kepedasan cabai ternyata dipengaruhi berbagai faktor mulai dari cara pembudidayaan, kondisi cuaca ekstrem, hingga permintaan pasar.
Fakta Utama: Kenapa Cabai Bisa Tidak Pedas?
1. Cabai Besar = Cenderung Kurang Pedas
Food historian David DeWitt, yang dijuluki “Pope of Peppers”, menjelaskan bahwa:
“Semakin besar ukuran cabai, biasanya semakin rendah tingkat kepedasannya.”
Ini terjadi karena petani kini banyak membiakkan cabai dengan ukuran lebih besar untuk meningkatkan berat panen. Harga cabai dihitung per kilogram, sehingga semakin besar buahnya, semakin besar keuntungannya.
Contohnya jalapeño di Amerika yang dulu hanya 7–8 cm, kini bisa mencapai 15 cm. Ukuran yang membesar ini secara alami menurunkan konsentrasi capsaicin—zat kimia yang membuat cabai pedas.
2. Cuaca Ekstrem Mengurangi Capsaicin
Perubahan iklim menyebabkan suhu ekstrem dan kekeringan yang memengaruhi proses pembentukan capsaicin di tanaman cabai. Pada 2022 dan 2023, fenomena kekeringan parah menyebabkan pasokan cabai pedas untuk bahan baku Sriracha anjlok drastis.
Menurut laporan produsen Huy Fong Foods, tanaman tidak mampu menghasilkan capsaicin optimal di suhu ekstrem, sehingga cabai menjadi lebih hambar.
3. Pasar Menginginkan Cabai “Ramah Lidah”
Brad Rubin dari Wells Fargo Agri-Food Institute menjelaskan bahwa pasar modern saat ini cenderung memilih cabai yang:
lebih besar,
lebih seragam bentuknya,
tidak terlalu pedas.
Supermarket lebih mudah menjual cabai tipe ini karena cocok untuk konsumen umum. Permintaan pasar akhirnya mempengaruhi petani untuk menanam varietas cabai yang lebih mild.
4. Petani Tetap Mengembangkan Cabai Sangat Pedas
Di sisi lain, terjadi tren ekstrem: petani tertentu justru berkompetisi menciptakan cabai paling pedas di dunia, seperti Carolina Reaper, Pepper X, dan varian baru lainnya.
Beberapa cabai tersebut bahkan mendekati batas aman konsumsi dan memicu insiden viral, salah satunya kasus produk “pedas ekstrem” yang ditarik dari pasaran setelah menyebabkan masalah kesehatan pada remaja.
Tren ini menunjukkan bahwa pasar cabai terbelah menjadi dua:cabai super mild dan cabai super pedas.“Level tengah” makin jarang ditemukan.
Apakah Skala Scoville Masih Relevan?
Skala Scoville, yang dibuat lebih dari 100 tahun lalu, masih digunakan untuk mengukur tingkat pedas. Namun metode ini bersifat subjektif karena mengandalkan cita rasa manusia dalam pengujian awal.
Meski kini sudah ada metode laboratorium yang lebih presisi, perdebatan tentang akurasinya masih berlangsung.
Cabai Tidak Pedas Itu Bukan Kebetulan
Perubahan tingkat kepedasan cabai terjadi karena gabungan beberapa faktor:
tanaman diseleksi untuk ukuran lebih besar demi keuntungan,
perubahan iklim yang merusak produksi capsaicin,
permintaan pasar terhadap cabai yang lebih mild,
pergeseran tren konsumsi dan industri makanan.
Dengan kata lain, cabai sekarang tidak pedas bukan karena “dilemahkan”, melainkan karena alami, ekonomi, dan tren pasar.







Comments