top of page

7 Mitos Keliru tentang Sayuran yang Masih Banyak Dipercaya Orang

Mitos Keliru tentang Sayuran

Sayuran dikenal sebagai salah satu makanan paling sehat untuk dikonsumsi sehari-hari. Banyak penelitian epidemiologi membuktikan bahwa orang yang makan sayur dalam jumlah cukup setiap hari memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular, kanker, hipertensi, dan penyakit kronis lainnya. Namun, manfaat ini bisa berkurang jika cara memproses, memasak, atau menyimpannya tidak tepat.


Sayangnya, masih banyak mitos tentang sayuran yang beredar dan dipercaya masyarakat. Berikut adalah 7 mitos keliru tentang sayuran, lengkap dengan penjelasan ilmiah.


1. “Sayuran yang ada bekas gigitan serangga pasti tidak mengandung pestisida.” – Mitos

Banyak orang mengira bahwa sayuran berlubang tanda dimakan ulat berarti bebas pestisida. Namun menurut pakar keamanan pangan, lubang serangga tidak dapat dijadikan indikator apakah sayur disemprot pestisida atau tidak.


Faktanya, sayuran tersebut mungkin justru disemprot dengan dosis lebih tinggi ketika hama sudah terlanjur berkembang. Artinya, sayuran dengan bekas gigitan tidak otomatis lebih aman.


Tips membersihkan:

Beberapa sumber kuliner, seperti yang dikemukakan pada laman Resep Koki, menyebutkan bahwa menggosok sayuran dengan tepung lalu membilasnya dapat membantu mengangkat kotoran dan sebagian residu pada permukaan.


2. “Sayuran hijau adalah yang paling bergizi.” – Mitos

Menurut penelitian dari University College London, pola makan yang terdiri dari berbagai warna sayuran jauh lebih efektif memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.


Memang sayuran hijau kaya vitamin K, folat, dan serat. Namun sayuran berwarna oranye (seperti wortel dan labu), merah (seperti tomat), dan putih (seperti bawang dan lobak) juga memiliki peran penting, termasuk sifat anti-kanker dan antioksidan.


3. “Makan sayuran mentah lebih bergizi dibanding dimasak.” – Mitos

Beberapa orang percaya nutrisi akan hilang jika sayuran dimasak. Namun menurut penelitian terhadap 198 orang Jerman yang rutin makan sayuran mentah, ditemukan bahwa:


  • tingkat β-karoten mereka lebih tinggi

  • tetapi kadar lycopene mereka jauh lebih rendah


Padahal lycopene dalam tomat justru lebih mudah diserap tubuh setelah dimasak.

Selain itu, sayuran tertentu mengandung antinutrisi dan racun alami yang hanya bisa hilang lewat proses pemanasan, misalnya pada kacang-kacangan.


4. “Jus sayuran lebih baik daripada makan langsung.” – Mitos

Dikutip dari data USDA, 100 gram jus wortel hanya mengandung 0,8 gram serat, sedangkan wortel utuh mengandung 2,8 gram serat.


Serat yang hilang membuat jus tidak memiliki manfaat penuh untuk pencernaan. Beberapa vitamin dan fitokimia juga dapat teroksidasi selama proses pengejusan, terutama vitamin C.

Jadi jus boleh dikonsumsi, tetapi bukan pengganti konsumsi sayur utuh.


5. “Merendam sayur dalam air lama membuatnya lebih bersih.” – Mitos

Merendam sayuran terlalu lama justru membuat:

  • nutrisi larut air hilang

  • residu pestisida berpotensi masuk kembali ke sayuran


Menurut ahli gizi, cara terbaik adalah:

  • bilas sayuran di bawah air mengalir 3–4 kali

  • rendam 15–20 menit saja bila perlu

  • tiriskan dan keringkan


6. “Potong sayur dulu, baru cuci.” – Mitos

Ini adalah kebiasaan yang salah.Ketika sayuran dipotong sebelum dicuci, permukaan kontak dengan air semakin besar, sehingga vitamin larut air seperti vitamin C akan cepat hilang.


Sebagaimana disebutkan pada laman Resep Koki, sayuran sebaiknya:

  1. dicuci dulu

  2. dikeringkan

  3. baru dipotong

  4. lalu langsung dimasak

Jika sudah dipotong, jangan disimpan lebih dari 2 jam karena oksidasi akan merusak nutrisi.


7. “Menumis dengan banyak minyak bikin sayur lebih enak dan sehat.” – Mitos

Banyak orang menggunakan banyak minyak ketika menumis. Padahal sayuran dapat menyerap minyak dalam jumlah besar, sehingga:

  • mengurangi nutrisi

  • menambah kalori

  • memperberat kerja pencernaan

  • meningkatkan risiko kesehatan jika sering dilakukan


Menurut ahli gizi, jumlah minyak yang ideal untuk menumis adalah maksimal 1 sendok makan per porsi. Beberapa vitamin seperti folat lebih stabil pada metode memasak cepat seperti stir-fry menggunakan sedikit minyak.


Comments


© 2025 Kiosayur. All rights reserved.

bottom of page